“Bapak Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama Tolong Kami”
Lampung Selatan (HO ) – Pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah kotoran sapi sejak puluhan tahun ke aliran sungai di wilayah sepanjang sungai jembatan Way bungur yang ada di Desa Kota Dalam, kemudian Desa Sukabanjar, serta Desa Banjar Suri, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung yang diduga berasal dari Peternakan Sapi potong (Cattle Freedlot) PT Juang Jaya Abdi Alam yang berlokasi di jalan Trans Sumatera KM 40 Sidomulyo.
Warga semakin resah dan mendesak Gubernur dan Bupati setempat, segera turun tangan mengambil tindakan tegas terhadap para peternak atau perusahaan yang diduga membuang limbah kotoran sapi secara langsung ke sungai.
Hal tersebut terungkap saat Media Handalonline.com melakukan uji informasi. Berdasarkan laporan dari masyarakat dan menyampaikan, aliran sungai yang dulunya menjadi denyut nadi masyarakat sekitar yang terdiri dari tiga desa kini tak lagi bening. Air yang dulunya menjadi sumber kehidupan bagi warga sekitar kini berubah menjadi aliran limbah berbau busuk, berwarna hitam gelap dan kental.

“Diduga berasal dari kotoran sapi. Pencemaran ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, bersumber dari salah satu perusahaan Sapi potong (Cattle Freedlot) PT Juang Jaya Abdi Alam skala besar yang beroperasi di wilayah kami,” terang masyarakat (YS) yang mewakili tiga desa. Yang Prihatin atas dampak limbah aliran sungai sejak puluhan tahun kepada Handalonline.com Jumat (30/1/2026).
Bersama warga setempat lainnya mereka mengaku sudah lelah melihat sungai dicemari, dan dapat dikatakan menjadi tempat pembuangan limbah. apalagi saat musim hujan, berdasarkan pantauan dan laporan warga air sungai saat ini berubah warna menjadi kehitaman, kecoklatan, dan berbusa. Kondisi ini telah mengganggu aktivitas harian warga selama bertahun-tahun yang bergantung pada air sungai untuk keperluan sehari-hari.
“Keluhan sudah sering disampaikan, namun belum ada penanganan permanen dari dinas terkait. Ini sudah keterlaluan, sudah puluhan tahun sungai kami dijadikan tempat pembuangan kotoran sapi, Ikan-ikan sudah mati semua. Jangankan untuk mandi dan mencuci, memasukkan kaki ke sungai saja kami sudah tidak sanggup. Kami sangat berharap kepada pemimpin yang baru menjabat sebagai Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, kemudian Bupati Kabupaten Lampung Selatan Radityo Egi Pratama segera bertindak sebelum dampaknya semakin parah,” ujarnya.
Selanjutnya masyarakat menambahkan keluhan, warga bukannya tidak didengar, laporan pihaknya baik melalui Pemerintah desa kecamatan, bahkan Dinas Lingkungan Hidup setempat seringkali menemui jalan buntu.

“Kami mencurigai adanya dugaan pembiaran dari Aparat Penegak Hukum (APH) dan pemerintah daerah setempat yang tutup mata terhadap pelanggaran yang dilakukan perusahaan. Pemerintah terkesan tidak berdaya, atau mungkin pura-pura tidak tahu,” timpalnya.
Kemudian tidak hanya itu, warga mendesak pemerintah daerah maupun provinsi untuk melakukan sidak turun ke lokasi kandang sapi yang membuang limbah ke sungai, menerbitkan sanksi tegas kepada peternak atau perusahaan. Jangan hanya turun sebatas seremonial.
“Diterapkan undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pembuangan limbah berbahaya ke sungai adalah pelanggaran serius yang dapat dipidana. Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkrit untuk memulihkan fungsi sungai seperti sedia kala sebelum adanya Peternakan Sapi potong PT Juang Jaya Abdi Alam,” pungkasnya.
Sementara saat Media Handalonline.com melakukan konfirmasi kepada pihak Peternakan Sapi potong (Cattle Freedlot) PT Juang Jaya Abdi Alam melalui Ganeral Affair (GA) Davit di hubungi melalui pesan aplikasi WhatsApp dan mengirimkan video serta foto dugaan sungai tercemar akibat limbah dari kotoran sapi, yang dikeluhkan masyarakat hanya dilihat tidak dibalas, walau dalam keadaan aktif. Begitu juga saat media ini melakukan telepon melalui aplikasi WhatsApp, beberapa kali dihubungi juga tidak direspon meskipun dalam keadaan berderingÂ
Tidak sampai di situ, selang satu hari kemudian, Sabtu (31/1), media ini berusaha kembali dalam upaya konfirmasi namun tetap tidak ada respon dari pihak PT Juang Jaya Abdi Alam.
Begitu juga General Manager William saat akan di konfirmasi melalui pesan aplikasi WhatsApp dan mengirimkan video serta foto dugaan sungai tercemar akibat limbah dari kotoran sapi yang dikeluhkan masyarakat hanya dilihat, tidak dibalas walau dalam keadaan aktif dan ketika di telpon juga beberapa tidak merespon.  (red)
