Selasa, Oktober 20, 2026

Pameran “Dari Semarang Kita Mulai” Gali Kembali Sejarah Pertempuran Akbar dalam Sejarah Revolusi Indonesia

Semarang (HO) – Memperingati 81 tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang, Rumah PoHan bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang menggelar pameran sejarah bertajuk “DARI SEMARANG KITA MULAI: 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang”. Pameran yang dibuka pada Kamis (15/10/2026) ini mengajak masyarakat menelusuri kembali peran penting Semarang dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus menggali kisah para tokoh dan masyarakat yang selama ini belum banyak terungkap.

Pembukaan pameran di Rumah PoHan, Jalan Kepodang 64, kawasan Kota Lama, Semarang, dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pegiat sejarah, akademisi hingga Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Anggota DPR RI Komisi VII, Samuel J.D. Wattimena, turut hadir dan menyampaikan sambutan. Sementara itu, pameran secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Nur Huda Iskandar.

Pameran ini diselenggarakan Rumah PoHan bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, dengan dukungan Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk meninjau kembali Pertempuran Lima Hari di Semarang yang berlangsung pada 15–19 Oktober 1945, salah satu peristiwa penting pada masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia.

Co Kurator, Mozes Christian Budiono sedang menjelaskan object-object pameran pada para pengunjung

Meski telah berlalu lebih dari delapan dekade, berbagai aspek pertempuran tersebut masih memerlukan penelusuran lebih mendalam. Mulai dari peran tokoh-tokoh yang terlibat, dinamika perjuangan, jaringan organisasi, hingga pengalaman warga sipil yang menghadapi situasi perang dengan latar belakang dan peran yang beragam.

Judul “DARI SEMARANG KITA MULAI” merujuk pada pernyataan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang menempatkan Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia.

Gagasan tersebut menjadi pijakan untuk menegaskan bahwa Semarang bukan sekadar lokasi berlangsungnya pertempuran, melainkan bagian penting dari perjalanan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan.

Kurator pameran, Kesit Widjanarko, mengatakan pemilihan judul tersebut bertujuan mengajak masyarakat melihat kembali posisi Semarang dalam sejarah nasional, terutama melalui sumber-sumber lokal yang belum banyak digali.

“Judul DARI SEMARANG KITA MULAI bersumber dari pernyataan Jenderal Besar A.H. Nasution yang menempatkan Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia. Kami ingin mengajak publik melihat kembali posisi penting Semarang dalam sejarah nasional. Dalam pameran ini, kami juga banyak menampilkan sumber-sumber lokal yang selama ini belum banyak digali, termasuk informasi mengenai tokoh-tokoh penting yang terlibat di dalamnya. Kami berharap pameran ini dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian dan penelusuran sejarah yang lebih luas,” ujar Kesit.

Mengungkap Tokoh dan Peran Masyarakat

Materi pameran tidak hanya menyajikan kronologi pertempuran dan perjuangan bersenjata, tetapi juga memperluas perspektif tentang tokoh, jaringan organisasi, serta pengalaman masyarakat yang turut membentuk sejarah Semarang pada masa revolusi.

Sejumlah tokoh dari latar belakang berbeda diperkenalkan melalui narasi sejarah, di antaranya R.M. Bambang Soeprapto, Ibnu Parna, K.R.M.T. Wongsonegoro, Mgr. Albertus Soegijapranata, dan Mr. Kasman Singodimedjo.

Pameran ini juga menyoroti bahwa sejarah perang tidak hanya dibentuk oleh mereka yang bertempur di garis depan. Warga sipil turut mengambil bagian melalui berbagai bentuk dukungan, seperti menyediakan makanan, merawat korban, menyampaikan informasi, mengangkut kebutuhan perjuangan, hingga menyelamatkan keluarga dari kawasan berbahaya.

Peran-peran tersebut menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana masyarakat Semarang menghadapi masa revolusi. Keberagaman latar belakang sosial dan budaya warga juga memperlihatkan bahwa pengalaman perang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Semangat Perjuangan untuk Masa Kini

Dalam sambutannya, Samuel J.D. Wattimena menekankan pentingnya memaknai kembali semangat perjuangan rakyat Semarang agar tetap relevan dengan tantangan kehidupan masa kini.

Co Kurator, Mozes Christian Budiono sedang menjelaskan object-object pameran pada para pengunjung

Menurutnya, nilai perjuangan tidak harus diwujudkan dalam bentuk yang sama seperti pada masa perang, tetapi dapat diteruskan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Semangat rakyat Semarang pada waktu Pertempuran Lima Hari di Semarang, hari ini seharusnya bisa dimaknai ulang. Semangat itu perlu diwujudkan dalam bentuk yang lebih ekspresif dan bermanfaat bagi masyarakat. Perjuangan tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama seperti pada masa lalu, tetapi dapat diteruskan melalui berbagai upaya yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan bersama,” ujar Samuel.

Apresiasi terhadap penyelenggaraan pameran juga disampaikan pengunjung, Gregorious Hendrawan Manurung. Ia menilai pameran tersebut mampu memadukan penyajian artistik dengan materi sejarah yang disusun berdasarkan riset.

“Pameran di Rumah PoHan ini, selain secara artistik ditata dengan bagus, materi di dalamnya juga dinarasikan dengan baik sekali karena didahului oleh riset yang mendalam terlebih dahulu. Hal ini membuat pengunjung tidak hanya menikmati penyajian visualnya, tetapi juga dapat memahami konteks sejarah yang disampaikan,” kata Gregorious.

Membuka Ruang Penelitian Sejarah yang Lebih Luas

Bagi Rumah PoHan, pameran ini bukanlah akhir dari upaya memahami Pertempuran Lima Hari di Semarang. Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi penelitian, dokumentasi, dan pengembangan pengetahuan sejarah yang lebih luas.

Object Pameran 2

Sejarawan, akademisi, peneliti, arsiparis, seniman, budayawan, pemerintah, dan masyarakat didorong untuk terus menelusuri sumber sejarah, mendokumentasikan kesaksian, serta mengembangkan karya kebudayaan yang berangkat dari sejarah lokal.

Arsip, penelitian, buku, film, dokumenter, dan karya seni dinilai dapat menjadi sarana untuk terus mengkaji sekaligus mewariskan sejarah Pertempuran Lima Hari kepada generasi berikutnya.

Delapan puluh satu tahun setelah peristiwa tersebut, tantangannya bukan hanya menjaga ingatan tentang keberanian para pejuang, tetapi juga membuka ruang bagi pengalaman masyarakat yang belum banyak terdokumentasikan. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, melainkan menjadi sumber pengetahuan untuk memahami kehidupan bersama pada masa kini.

Pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI: 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang” berlangsung di Rumah PoHan, Jalan Kepodang 64, kawasan Kota Lama, Semarang, pada 15–20 Oktober 2026.

Melalui pameran ini, masyarakat diajak menempatkan sejarah Semarang dalam konteks perjuangan nasional sekaligus memperkuat upaya pelestarian ingatan kolektif tentang perjalanan bangsa menuju dan mempertahankan kemerdekaan. (*)

Berita Populer

Ratusan Gram Sabu dan Ganja Dimusnahkan Kejaksaan Negeri Pesawaran

Pesawaran (HO) -  Ratusan gram narkoba jenis sabu dan ganja dimusnahkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pesawaran. Diungkapkan Kajari Pesawaran Umi Kalsum, S.H, M.H, tindak pidana...

Dana Desa Totokarto 2019–2025, Terindikasi Korupsi, Warga Desak Periksa Kakon Samad

Sumur Bor, Drainase hingga BUMDes Disorot, Warga Minta Pengelolaan Dana Desa Totokarto Diperiksa Pringsewu (HO) – Sejumlah warga Pekon Totokarto, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Lampung,...
error: Content is protected !!