Bandar Lampung (HO) – Puskesmas Simpur kembali menorehkan langkah progresif dalam urusan kesehatan sistem reproduksi perempuan dengan meluncurkan inovasi terbaru bernama Puspita Sari (Perempuan Usia Subur Peduli IVA Tertib Sadari). Inovasi ini dihadirkan sebagai hulu gerakan preventif dan deteksi dini terhadap dua kanker paling berisiko pada wanita, yakni kanker serviks melalui pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan kanker payudara melalui gerakan SADARI (Periksa Payudara Sendiri).
Melalui Puspita Sari, Puskesmas Simpur berkomitmen penuh untuk merangkul dan mengedukasi Wanita Usia Subur (WUS) di wilayah kerjanya agar lebih mawas diri serta menghilangkan stigma takut untuk melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi.
Plt. Kepala Puskesmas Simpur, dr. Dewi Retnosari, menyampaikan bahwa inovasi ini lahir dari urgensi pentingnya deteksi dini yang sering kali diabaikan oleh masyarakat karena faktor tabu atau takut.
“Kanker serviks dan payudara adalah pembunuh senyap bagi kaum perempuan. Melalui inovasi Puspita Sari, kami ingin mengubah paradigma masyarakat dari mengobati menjadi mencegah. Kami menjemput bola untuk memastikan perempuan usia subur di wilayah Puskesmas Simpur mendapatkan akses pemeriksaan IVA yang nyaman dan rutin melakukan SADARI demi kualitas hidup yang lebih baik,” tegas dr. Dewi Retnosari, Sabtu (11/7/2026).
Dari lini pelayanan klinis, Elya Eva, STr.Keb, selaku Koordinator Pelayanan IVA, menekankan pentingnya keteraturan dalam pemeriksaan demi memutus rantai keterlambatan penanganan medis.
“Banyak kasus baru terdeteksi setelah memasuki stadium lanjut, padahal jika diketahui sejak dini melalui IVA test, tingkat keberhasilan pencegahannya sangat tinggi. Melalui Puspita Sari, kami mempermudah alur pelayanan IVA, memberikan edukasi personal yang ramah, dan memastikan setiap perempuan tidak perlu merasa cemas atau malu saat memeriksakan dirinya,” jelas Elya Eva, STr.Keb.
Keberhasilan program ini tentu tidak lepas dari peran aktif lingkungan sekitar. Ns. Lina Gustiana, S.Kep, selaku Koordinator Manajemen Pemberdayaan Masyarakat, menjelaskan strategi pendekatan berbasis komunitas yang digerakkan dalam inovasi ini.
“Kami menyadari edukasi tidak bisa dilakukan di dalam gedung puskesmas saja. Lewat Puspita Sari, kami memberdayakan para kader kesehatan, tokoh perempuan, dan komunitas lokal untuk menjadi perpanjangan tangan kami. Kami mengedukasi mereka tentang cara melakukan SADARI secara tertib dan benar, yang kemudian mereka tularkan ke lingkungan rumah tangga. Pemberdayaan ini adalah kunci agar gerakan peduli kesehatan ini menjadi mandiri dan berkelanjutan,” ungkap Ns. Lina Gustiana, S.Kep.
Inovasi Puspita Sari diharapkan mampu mendongkrak secara signifikan cakupan pemeriksaan IVA dan kesadaran SADARI di wilayah Puskesmas Simpur, sekaligus menjadi role model bagi upaya perlindungan kesehatan perempuan yang integratif dari tingkat komunitas hingga pelayanan klinis. (Mira)
