Bandar Lampung (HO) – Pemerintah Kota Bandar Lampung terus bergerak masif demi mencapai target nasional Eliminasi Tuberkulosis (TB) pada tahun 2030. Menjawab tantangan tersebut, UPT Puskesmas Simpur meluncurkan sebuah inovasi strategis yang diberi nama KUPAS TB (Kunjungan Petugas Amati dan Sembuhkan Tuberkulosis). Program ini berfokus pada pendampingan melekat dan pelacakan aktif pasien langsung ke rumah-rumah warga.
Plt. Kepala Puskesmas Simpur, dr. Dewi Retnosari, menegaskan bahwa inovasi KUPAS TB lahir dari komitmen kuat untuk memutus mata rantai penularan di wilayah kerja mereka, sekaligus mendukung penuh visi Wali Kota Bandar Lampung Hj. Eva Dwiana dalam mewujudkan kota Bandar Lampung sehat.
“Melalui KUPAS TB, kami tidak lagi sekadar menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, melainkan aktif melakukan jemput bola. Kami ingin memastikan tidak ada pasien TB yang putus obat di tengah jalan, karena pengobatan yang tuntas adalah kunci utama eliminasi. Ini adalah bentuk nyata dukungan kami terhadap program Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk mencapai Eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030,” ujar dr. Dewi Retnosari, Jumat (5/6/2026).
Dalam pelaksanaannya, program ini mengintegrasikan peran tenaga medis, pemegang program, dan kader ILS secara sistematis. Tim KUPAS TB secara berkala mendatangi kediaman pasien untuk memantau kepatuhan konsumsi obat serta memberikan edukasi mengenai sanitasi rumah yang sehat.
Koordinator Program TB Puskesmas Simpur, Ns. Firda Halifah Rahmayani, S.Kep., menjelaskan teknis di lapangan. Menurutnya, tantangan terbesar dalam penanganan TB adalah kejenuhan pasien dalam menjalani masa pengobatan yang memakan waktu minimal enam bulan.
“Dengan KUPAS TB, petugas medis dan Koordinator Program TB memantau langsung perkembangan klinis pasien secara berkala. Kami mengecek efek samping obat, memberikan konseling motivasi, hingga melakukan pemeriksaan screening (penapisan) bagi anggota keluarga yang tinggal serumah. Deteksi dini dan pengawasan ketat seperti inilah yang mencegah terjadinya TB Resisten Obat (TB-RO),” kata Ns. Firda.
Keberhasilan inovasi ini tentu tidak lepas dari peran garda terdepan di masyarakat, yaitu para kader kesehatan. Munayah, seorang Kader dari Inisiatif Lampung Sehat (ILS) yang fokus pada penanggulangan TB, menceritakan bagaimana dinamika pendekatan emosional yang dilakukan kepada warga.
“Sebagai kader, tugas kami adalah menjadi jembatan antara Puskesmas dan masyarakat. Kami mendampingi pasien secara psikologis, mengingatkan jadwal minum obat, dan menghapus stigma negatif tentang TB di lingkungan sekitar. Melalui gerakan KUPAS TB ini, masyarakat menjadi lebih terbuka dan tidak takut lagi untuk memeriksakan diri,” ungkap Munayah.
Dampak positif dari program inovatif ini dirasakan langsung oleh masyarakat. M (32), salah satu pasien TB yang sedang menjalani masa pemulihan di wilayah Simpur, mengaku sangat terbantu dengan adanya kunjungan rutin dari tim KUPAS TB.
“Awalnya saya sempat merasa drop dan pesimis harus minum banyak obat setiap hari. Tapi sejak ada program KUPAS TB, petugas dan kader sering datang ke rumah memberikan semangat, memeriksa kondisi saya, dan menjelaskan dengan sabar. Saya merasa sangat diperhatikan. Sekarang saya jauh lebih optimis untuk bisa sembuh total,” tutur M dengan nada haru.
Dengan sinergi yang solid antara Manajemen Puskesmas, Koordinator Program TB, Kader ILS, dan partisipasi aktif pasien, inovasi KUPAS TB Puskesmas Simpur diharapkan dapat menjadi barometer penanganan TB yang efektif di Kota Tapis Berseri, sekaligus mempercepat akselerasi menuju Bandar Lampung Bebas TB 2030. (Mira)
