Saburai Support Group Gelar Training Capacity Building KDS Provinsi Lampung

 Editor: M.Ismail 
dr. Arlia Novita sedang menyampaikan materi pada saat acara Saburai Support Group Gelar Training Capacity Building KDS Provinsi Lampung di Hotel Horison Bandar Lampung

Lampung (HO) – Saburai Support Group (SSG) Lampung mengadakan training untuk Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang ada di Provinsi Lampung dalam rangka meningkatkan kapasitas anggota KDS dan melakukan sistem dukungan sebaya di daerahnya. selama 4 hari dari tanggal 23 s/d 26 November 2022 di Hotel Horison Bandar Lampung.

Menurut Ketua SSG Lampung, Agus Wahyu Wibowo, S.P., Kelompok Dukungan Sebaya adalah Kelompok yang beranggotakan ODHIV (Orang Dengan HIV) maupun keluarga ODHIV yang saling mendukung.

“KDS memiliki peran dan fungsi penting untuk ikut membantu penanggulangan HIV AIDS di Provinsi Lampung antara lain dapat membantu untuk memberikan dukungan psikososial bagi ODHIV yang baru tahu status, berbagi informasi yang benar terkait pengobatan dan perawatan ODHIV, akses layanan HIV, membantu meningkatkan kepercayaan diri ODHIV, dan memberikan informasi perilaku pencegahan HIV,” terang saat membuka acara dan memberikan materi tentang dasar dan gambaran HIV, dasar dan jenis-jenis Antiretroviral (ARV).

Ketua SSG Lampung, Agus Wahyu Wibowo, S.P, saat membuka acara dan memberikan materi tentang dasar dan gambaran HIV, dasar dan jenis-jenis Antiretroviral

Agus Wahyu Wibowo, S.P, menyebutkan, seperti melakukan seks aman dengan kondom, oleh karena itu peningkatan kapasitas anggota KDS sangat perlu sehingga mereka anggota KDS bisa terus melakukan dukungan sebaya dengan baik.

“Kegiatan ini dihadiri oleh 11 Kelompok Dukungan Sebaya diantaranya ada 2 KDS yang berasal dari Bandar Lampung yaitu KDS Smile Generation dan KDS Angsa Putih dan ada 9 KDS yang berasal dari kabupaten yaitu KDS Akiyuki Family Lampung Utara, KDS Nenemo Tulang Bawang Barat, KDS Arjuna Tulang Bawang, KDS Pelita Hati Lampung Tengah, KDS Seputih Timur Lampung Tengah, KDS Sehati Kota Metro, KDS Bambu Asih Family Care Pringsewu, dan KDS Kalianda Support Lampung Selatan,” ucapnya.

Baca Juga:  Penyebar Voice Note, Bakal di Laporkan Ketua Apdesi Kabupaten Pringsewu

Dikatakan Agus Wahyu Wibowo, S.P, Masing-masing KDS mewakilkan 2 orang anggotanya sehingga total peserta yang mengikuti Pelatihan ini ada 22 orang peserta.

“Kami juga memfasilitasi kegiatan ini dengan 3 orang fasilitator dari SSG Lampung dan 1 orang narasumber dari layanan PDP Puskesmas di Bandar Lampung untuk membawakan materi-materi pelatihan,” terang Agus Wahyu Wibowo, S.P.

Menurut nya, seseorang yang sudah terinfeksi virus HIV akan minum obat seumur hidupnya yaitu terapi ARV.

“Keberhasilan pengobatan HIV/AIDS dengan terapi ARV ditentukan oleh kepatuhan ODHIV minum obat ARV,” ujarnya.

Kemudian lanjutnya, Materi ini merupakan dasar pengetahuan bagi KDS agar mereka bisa mengetahui Tepat dosis, tepat waktu dan tepat cara Terapi ARV.

“Selain itu KDS juga bisa memotivasi ODHIV untuk patuh minum obat agar ODHIV tidak Lost To Follow Up (LTFU), dan bisa menjangkau pasangan atau anak dari ODHIV yang belum tes VCT agar mau melakukan tes VCT dan mengetahui status HIV nya secara pasti sebelum masuk ke fase AIDS melalui program Notifikasi Pasangan,” katanya.

Agus Wahyu Wibowo, S.P, menjelaskan, salah satu dari 26 materi yang disampaikan yaitu tentang teknik komunikasi dan mempengaruhi serta konseling sebaya.

“Materi ini sangat penting karena nantinya KDS akan berhadapan langsung dengan ODHIV sehingga membutuhkan teknik komunikasi yang persuasif untuk mengajak dan memotivasi ODHIV agar patuh minum obat ARV, selain itu konseling ODHIV bisa untuk merangkul ODHIV agar kualitas hidup mereka lebih baik dari sebelumnya,” pungkasnya.

Baca Juga:  Hillary : Manfaatkan Sosmed Untuk Berjualan Dan Meningkatkan Perekonomian

Sementara itu Salah satu Narasumber kegiatan tersebut, dr. Arlia Novita yang merupakan dokter umum di layanan HIV AIDS UPT Puskesmas Pasar Ambon Kota Bandar Lampung menyampaikan materi tentang dasar Obat Anti Tuberkulosis (OAT). ODHIV merupakan kelompok yang berisiko tinggi mengidap tuberkulosis (TBC). Pada pasien HIV perlu diberikan vitamin B6 dalam pemberian obat OAT. Pada pengobatan pasien HIV dengan TBC waktu yang diperlukan 6-8 bulan hingga 9-24 bulan.

“Selama pemberian OAT, ARV tetap perlu dilanjutkan. Selama masa pengobatan pasien selalu dievaluasi dahaknya dengan interval waktu yang ditentukan oleh dokter,” ujarnya.

dr. Arlia Novita berharap setelah mengikuti pelatihan ini, anggota-anggota KDS dapat terus aktif melakukan kegiatan dalam hal membantu memberikan dukungan psikososial bagi ODHIV di daerahnya dan setiap KDS dapat menjadi sumber informasi dan edukasi.

“Terkait pengobatan dan perawatan ODHIV, dan saling mendukung untuk memantau kepatuhan ARV satu dengan yang lain,” katanya.

Salah satu peserta dengan inisial T (25 tahun) asal Lampung Timur, mengatakan dengan adanya kegiatan tersebut, sangat bermanfaat karena pelatihan ini diberikan materi cara Teknik komunikasi dan konseling sebaya.

“Saya lebih paham bagaimana melakukan konseling sebaya kepada teman sebaya karena di pelatihan ini diberikan materi Teknik komunikasi dan konseling sebaya dan bagaimana tips dan trik menjangkau teman sebaya yang Lost Follow Up dan melakukan Notifikasi Pasangan pada teman ODHIV,” katanya. (Mira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here